Hidangan penutupnya juga sama. Sensasinya berbeda: tahukah Anda bahwa alat makan dapat mengubah rasanya?
Ketika kita menikmati kue, kita cenderung fokus pada resep, bahan dan tekniknya. Namun, sebuah bidang yang sedang berkembang, gastrophysics, ilmu yang mempelajari bagaimana indera kita membentuk rasa, menunjukkan sesuatu yang mengejutkan: alat makan yang kita gunakan memengaruhi seberapa manis atau gurihnya makanan penutup tersebut.
Ilmu pengetahuan telah mengatakannya selama bertahun-tahun, meskipun kita hampir tidak ingin mendengarnya: alat makan dapat mengubah persepsi rasa, dan lebih khusus lagi, rasa manis. Hal ini tidak mengubah resep atau gula, namun mengubah cara pikiran menafsirkan apa yang sampai di lidah.
Otak sebelum lidah
Pada tahun 2013, psikolog Vanessa Harrar dan ahli saraf Charles Spence menerbitkan sebuah penelitian unik dalam jurnal Flavour. Mereka meminta sukarelawan untuk makan yoghurt dengan sendok yang sama, tetapi dengan berat dan warna yang berbeda. Yoghurtnya selalu sama, tapi hasilnya tidak: ketika sendoknya lebih ringan, para partisipan mendeskripsikannya sebagai lebih manis dan lembut. Jika sendoknya lebih berat, rasa manisnya tampak lebih encer.
Fenomena ini diulangi dengan makanan lain, dan para peneliti menyimpulkan bahwa otak membentuk ekspektasi sensorik bahkan sebelum gigitan pertama. Jika sesuatu tampak kecil dan lembut seperti sendok tipis atau garpu ringan, kita mengantisipasi pengalaman yang ringan. Ketika rasa yang sebenarnya melebihi ekspektasi itu, persepsi rasa manis akan diperkuat.
Sebaliknya, garpu yang besar atau berat menunjukkan kepadatan dan kepenuhan. Dalam konteks tersebut, kue yang sama mungkin tampak kurang manis, kurang hidup, seolah-olah gula telah diencerkan.
Psikofisika rasa
Eksperimen semacam itu termasuk dalam bidang baru yang disebut gastrofisika, di mana para psikolog, fisikawan, dan koki mempelajari bagaimana indera - penglihatan, sentuhan, pendengaran, penciuman - berinteraksi untuk membangun apa yang kita sebut sebagai "rasa". Menurut Spence, seorang profesor di Universitas Oxford, "otak kita memutuskan bagaimana rasa sesuatu sebelum lidah mengonfirmasinya".
Dalam makalah lain yang diterbitkan di Food Quality & Preference, penulis yang sama menunjukkan bahwa berat wadah juga memengaruhi cara kita menilai makanan: makanan penutup yang disajikan dalam mangkuk yang berat akan terasa lebih padat, lebih mahal, dan lebih mengenyangkan dibandingkan dengan makanan yang disajikan dalam mangkuk atau cangkir yang ringan.
Semua ini tidak mengubah komposisi kimiawi dari makanan tersebut; yang berubah hanyalah penafsirannya. Apa yang dipegang oleh tangan Anda - logam, tekstur, tekanan, kontras warna - mengirimkan sinyal yang diterjemahkan oleh otak Anda ke dalam nuansa rasa.
Sebuah pertanyaan tentang ekspektasi
Jadi, rasa manis bukan hanya tentang gula, tetapi juga tentang konteks. Kue yang dimakan dengan garpu yang ringan mungkin terasa lebih manis dan lebih kuat karena pikiran Anda melihatnya sebagai kejutan: sesuatu yang kecil yang mengandung lebih banyak rasa daripada yang terlihat.
Namun garpu yang kokoh, seperti yang biasa Anda gunakan untuk memotong daging atau menyajikan lasagna, dapat mengurangi kelezatan kue yang sama. Berat badan mengambil alih. Otak Anda tanpa disadari mengimbanginya: "ini pasti lebih padat, oleh karena itu kurang manis". Seperti yang bisa kita lihat, ekspektasi merembes ke dalam setiap gigitan. Mekanisme ini bukanlah hal yang baru, meskipun sekarang sudah memiliki nama.
Apa artinya ini bagi hidangan penutup Anda
Jadi, jika Anda ingin meningkatkan rasa manis pada hidangan penutup tanpa menambahkan gula, ilmu pengetahuan menyarankan untuk memulainya dengan sederhana: pilihlah alat makan Anda dengan bijak.
Gunakan garpu atau sendok kecil yang ringan, ringan dan proporsional. Tinggalkan alat makan yang besar dan berat untuk hidangan yang gurih atau hangat. Tentu saja, efeknya tidak kentara. Mereka tidak akan membuat kue yang biasa-biasa saja terasa seperti kemuliaan, dan juga tidak akan membuat flan bebas gula berubah menjadi karamel murni. Tetapi mereka dapat meningkatkan pengalaman.
Pikiran, hidangan penutup, dan teater yang tak terlihat
Pada dasarnya, meja adalah sebuah teater indera kecil. Segala sesuatu yang terjadi di sekitar piring (suara alat makan, beratnya, suhu logam, dll.) mempengaruhi pengalaman dan persepsi kita. Dan, meskipun kita tidak menyadarinya, otak kita berada di barisan depan untuk mencatatnya.
Jadi, lain kali saat Anda menyajikan sepotong kue, ingatlah: rasa manisnya bukan hanya pada gula. Manisnya juga terletak pada cara Anda menyajikannya. Resepnya tidak berubah. Yang berubah adalah bagaimana kita merasakannya.
Jika Anda ingin tahu lebih banyak, Anda dapat berkonsultasi:
Harrar, V. & Spence, C. (2013). Rasa alat makan. Rasa
Spence, C. (2015). Persepsi Rasa Multisensorik.
Piqueras-Fiszman, B. & Spence, C. (2012).Berat wadah mempengaruhi persepsi rasa. Makanan.
Patricia González
Komentar